Jakarta (KABARIN) - Ketua Lembaga Sensor Film Naswardi menilai industri film Indonesia tengah berada di periode yang menguntungkan dan punya peluang besar untuk terus dikembangkan, sehingga ia mendorong rumah produksi lokal untuk memanfaatkan situasi ini.
“Nah, waktu terbaik masa kemasannya itu ada di dua tahun terakhir ini, 2004-2025, dan tantangannya adalah mempertahankan ini. Karena dari luar ya, pasar film luar negeri global ini kan lagi stagnan, dan pasar Indonesia tumbuh, sehingga ini kue yang ingin diperebutkan,” kata Naswardi dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu.
Naswardi menjelaskan pertumbuhan film global hanya sekitar 2 persen, sementara film nasional naik 5-6 persen. Hal ini membuat Indonesia jadi pasar strategis baik untuk film lokal maupun internasional.
Ia juga menyoroti lima negara penyumbang film impor terbesar ke Indonesia yakni Amerika Serikat, Korea Selatan, Jepang, dan China, yang menegaskan posisi Indonesia sebagai pasar potensial bagi industri film dunia.
Naswardi menyerukan rumah produksi agar terus meningkatkan kualitas film dan menargetkan pasar Asia maupun internasional. LSF pun berkomitmen mendukung perkembangan industri ini lewat kerja sama dengan lembaga sensor film di luar negeri supaya distribusi film Indonesia bisa lebih luas.
Data LSF menunjukkan bahwa genre film asing yang paling banyak tayang di bioskop pada 2025 adalah drama 64 judul, action 64 judul, misteri/thriller 43 judul, animasi 31 judul, dan musikal 19 judul.
Sedangkan film nasional paling banyak diproduksi bergenre drama 145 judul, horor 58 judul, misteri/thriller 28 judul, action 12 judul, dan dokumenter 6 judul.
Selain itu, LSF menggelar berbagai program apresiasi dan edukasi, seperti Anugerah LSF 2025, Lomba Cipta Lagu Anak, serta LSF Goes to School dan LSF Goes to Campus yang menjangkau hampir 13 ribu peserta.
Pada 2025, LSF juga menempatkan iklan layanan masyarakat digital di 378 gerbong KRL Commuter Line, menjangkau lebih dari satu juta orang setiap hari sebagai bagian dari modernisasi publikasi dan transparansi.
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026